Memperkenalkan terjal baru hari dimana perjalanan tak dilangkahi kedua kaki, mata hilang tertutup lidah hitam kebencian. Hati dan telinga keduanya saling membunuh satu sama lain menyisakan tetesan air yang mungkin masih suci dari tanah.
Awan yang menari – nari dengan mendung mengirimkan petir temani terbangnya abu sisa rerumputan. Matahari yang lemas mulutnya dicabik, biasa kini namun tak ada kesedihan karena cahaya yang sedikit setia menghalanginya.
Merotasi garis yang telah dipilih, melihatnya terus mengintai dari jarak yang tidak terlalu jauh sulit terlihat terhalang beberapa kerikilnya sendiri. Tinggi untuk merasakannya namun sosoknya justru menghilang, tak ada lagi pilihan selain mematikan api dan kembali kebawah.
Berharap suatu saat sungai mengerti dasar tanahnya menyemburkan sebagian hidupnya ke langit.
Rabu, 03 Juni 2015
Selasa, 02 Juni 2015
Mucikari Hijau Bidadari
Gemuruh suara lorong waktu hidup, tubuhnya menyala bercahaya menarik sedikit demi sedikit memoar kembali ke pelukannya.
Anestesinya sekali lagi terhunus ke tubuh ini, rasanya seperti buah anggur yang matang memberikan tenang dalam dalam.
Narasi tak bisa lagi membantu hanya sedikit yang terhubung jauh sebelum sayap sayap itu menyetubuhinya. terbawa terus ke bawah tanpa sadari tak ada jalan yang buntu melainkan mencari keabadian.
Jelmaan sosok hijau terus menerus merasuk, tak ada perlawanan kuat dialami melenggang begitu cepat beralaskan tanah yang terbuat dari emas dan berlian membawanya menjadi besi tua berkarat.
Akankah perangainya terus bertarung dalam angkasa hitam tempat mucikari itu tinggal, terjebak dalam hijaunya daratan mempesona mata yang satu dan lain mati meninggalkan begitu saja.
Anestesinya sekali lagi terhunus ke tubuh ini, rasanya seperti buah anggur yang matang memberikan tenang dalam dalam.
Narasi tak bisa lagi membantu hanya sedikit yang terhubung jauh sebelum sayap sayap itu menyetubuhinya. terbawa terus ke bawah tanpa sadari tak ada jalan yang buntu melainkan mencari keabadian.
Jelmaan sosok hijau terus menerus merasuk, tak ada perlawanan kuat dialami melenggang begitu cepat beralaskan tanah yang terbuat dari emas dan berlian membawanya menjadi besi tua berkarat.
Akankah perangainya terus bertarung dalam angkasa hitam tempat mucikari itu tinggal, terjebak dalam hijaunya daratan mempesona mata yang satu dan lain mati meninggalkan begitu saja.
Langganan:
Postingan (Atom)