Memperkenalkan terjal baru hari dimana perjalanan tak dilangkahi kedua kaki, mata hilang tertutup lidah hitam kebencian. Hati dan telinga keduanya saling membunuh satu sama lain menyisakan tetesan air yang mungkin masih suci dari tanah.
Awan yang menari – nari dengan mendung mengirimkan petir temani terbangnya abu sisa rerumputan. Matahari yang lemas mulutnya dicabik, biasa kini namun tak ada kesedihan karena cahaya yang sedikit setia menghalanginya.
Merotasi garis yang telah dipilih, melihatnya terus mengintai dari jarak yang tidak terlalu jauh sulit terlihat terhalang beberapa kerikilnya sendiri. Tinggi untuk merasakannya namun sosoknya justru menghilang, tak ada lagi pilihan selain mematikan api dan kembali kebawah.
Berharap suatu saat sungai mengerti dasar tanahnya menyemburkan sebagian hidupnya ke langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar