Selasa, 02 Juni 2015

Mucikari Hijau Bidadari

Gemuruh suara lorong waktu hidup, tubuhnya menyala bercahaya menarik sedikit demi sedikit memoar kembali ke pelukannya.
Anestesinya sekali lagi terhunus ke tubuh ini, rasanya seperti buah anggur yang matang memberikan tenang dalam dalam.
Narasi tak bisa lagi membantu hanya sedikit yang terhubung jauh sebelum sayap sayap itu menyetubuhinya. terbawa terus ke bawah tanpa sadari tak ada jalan yang buntu melainkan mencari keabadian.
Jelmaan sosok hijau terus menerus merasuk, tak ada perlawanan kuat dialami melenggang begitu cepat beralaskan tanah yang terbuat dari emas dan berlian membawanya menjadi besi tua berkarat.
Akankah perangainya terus bertarung dalam angkasa hitam tempat mucikari itu tinggal, terjebak dalam hijaunya daratan mempesona mata yang satu dan lain mati meninggalkan begitu saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar